Hormon Manusia Dan Aktivitas Di Social Media

Hormon Manusia Dan Aktivitas Di Social Media

Emosi adalah satu bagian penting dalam hidup manusia. Saat aktivitas media sosial menjadi bagian hidup di era teknologi seperti sekarang ini, emosi pun turut berperan penting dalam ber-media sosial.

 

Ternyata sebenarnya emosi banyak kaitannya dengan hormon. Terdapat 2 hormon yang memiliki peranan penting yang mempengaruhi aktivitas seseorang di media sosial terkait dengan aktivitas update status , like sebuah status, share status orang lain dan berkomentar di status orang lain. Kedua hormon tersebut adalah hormon Dopamine dan Oxytocin.

 

Hormon Dopamine Dan Oxytocin

 

Dopamine adalah hormon kesenangan yang menyebabkan kita termotivasi untuk mencapai target, kepuasan dan keinginan. Hormon ini bekerja memicu tubuh menjadi lebih semangat dan bergairah dalam bekerja.

 

Sedangkan Oxytocin merupakan hormon yang meningkatkan perasaan cinta, sayang dan rasa percaya. Hormon ini berfungsi untuk membuat rasa nyaman dan bahagia. Mereka yang merasa dicintai dengan baik cenderung memiliki jumlah hormon Oxytocin yang tinggi.

 

Mengapa Seseorang Melakukan Posting Di Media Sosial ?

 

Hal ini disebabkan oleh keinginan untuk mengidentifikasikan diri atau self presentation. Seseorang yang ingin mengidentifikasikan diri sebagai ahli memasak pastinya posting tentang resep masakan, check in di tempat kursus memasak hingga membuat video pendek tentang membuat kue. Selain itu juga karena ingin merasa terkoneksi dengan apa yang menjadi tujuan identifikasi dirinya, disini hormon Oxytocin dan Dopamine berperan.

 

Manusia memiliki kecenderungan untuk berbicara mengenai diri mereka sekitar 30%-40% dari total keseluruhan apa yang mereka bicarakan dalam sehari-hari. Saat munculnya media sosial, persentase tersebut naik menjadi hampir sekitar 80% dari seluruh post di media sosial.

 

Identifikasi diri disini juga bisa disebut sebagai self-positioning, yaitu “memposisikan diri ” melalui post yang mereka buat di media sosial untuk meningkatkan self esteem atau rasa percaya diri. Uniknya terdaat sebuah studi kasus yang dipublish di ZDNet bahwa mengunjungi facebook profile akan meningkatkan rasa percaya diri.

 

Dari sisi marketing media sosial hal ini terkait erat dengan brand. Bagaimana audience di media sosial membuat post mengenai suatu brand dikarenakan keinginan untuk self-positioning yang dipengaruhi oleh dopamine dan oxytocin. Self positioning dari audience media sosial akan mempengaruhi apa yang akan mereka beli untuk menunjukan siapa mereka sebenarnya.

 

Seperti perasaan bangga saat posting di media sosial dengan menggunakan pakaian dengan brand tertentu atau posting dan check in di sebuah restoran yang terkenal.

 

Mengapa Seseorang Membagikan Sebuah Postingan Di Media Sosial ?

 

Saya sebagai orang yang menyukai digital marketing selalu rutin share post tentang digital marketing di time line facebook saya, hal ini disebabkan keinginan untuk Self fullfilment saya sebagai digital marketing enthusiast yang dipengaruhi oleh dopamine dan oxytocin.

 

New York Times membuat suatu studi kasus mengapa share bisa terjadi, yang dibuat versi infografisnya oleh Coschedule.com. Infografisnya bisa anda lihat di bawah ini :

 

 

Bagaimana dengan di Indonesia ? berdasarkan data yang diambil dari Ipsos : 62% orang Indonesia share karena hal tersebut dianggap menarik, 58% karena dianggap penting dan 47% karena dianggap unik.

 

Mengapa Seseorang Menyukai Postingan Di Media Sosial ?

 

Jawabannya untuk memberikan rasa empati, membina hubungan baik dengan seseorang yang kita like post-nya, memberikan dukungan berupa feedback positif dan menandakan kesetujuan yang dipengaruhi oleh hormon Oxytocin.

 

Untuk like terhadap suatu brand berdasarkan riset yang dibuat oleh Syncapse.com, seseorang menyukai suatu brand dikarenakan keinginannya untuk mendukung brand tersebut.

 

 

Mengapa Seseorang Mengomentari Postingan Di Social Media ?

 

Jawabannya sederhana, seseorang berkomentar karena merasa hal tersebut perlu untuk dikomentari. Berdasarkan studi kasus yang bersumber dari New York Times, 85% audience merespon suatu post media sosial dengan berkomentar dengan tujuan untuk menjadi lebih mengerti mengenai info yang ditampilkan pada post tersebut.

 

Dari sisi marketing media sosial, komentar merupakan refleksi dari audience terhadap sebuah brand atau bisnis.  Tentunya komentar mengenai brand di media sosial harus terus di kelola secara aktif baik dari sisi, baik komentar positif maupun komentar negatif.

 

 

Haryo Wibowo

Digital marketing manager at kliknklik.com. A/B testing maniacs , fall in love with metrics, conversions, SEO, big data and ecommerce . Like to play guitar all day and see new things.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.